Balai Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung
Unda Anyar

Bambu untuk Rehabilitasi Lahan dan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.

Oleh :  M. Safaris Soedarjanto

Pendahuluan

Kabupaten Bangli berada pada sistem kerucut vulkan hingga lereng atas Gunungapi Batur. Bangli merupakan daerah resapan air untuk sistem air tanah di bawahnya. Kondisi tersebut menempatkan Kabupaten Bangli  pada posisi yang penting dalam konteks sumberdaya air. Balai Pengelolaan DAS Unda Anyar bertanggungjawab dalam formulasi program rehabilitasi sumberdaya DAS untuk perbaikan mutu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Program penanaman bambu di Kabupaten Bangli merupakan salah satu kegiatan penting dalam pelaksanaan tugas tersebut. Berdasarkan inventarisasi data tahun 2009, budidaya bambu di Bangli adalah yang terbesar di Provinsi Bali . Menurut Yayasan Bambu Indonesia ada 127 spesies bambu di dunia, dan 105 diantaranya terdapat di Indonesia, termasuk Kabupaten Bangli. Budidaya bambu merupakan upaya yang strategis untuk perbaikan mutu lingkungan global dan pemberdayaan masyarakat melalui pengentasan kemiskinan. Mulai tahun 2009 BPDAS Unda Anyar menginisiasi pembuatan area model pengembangan bambu di Bangli  dengan mempertimbangkan aspek sosial ekonomi, budaya dan lingkungan.

Nilai Ekonomi dan Budaya Tanaman Bambu di Bangli

Budidaya bambu di Bangli mempunyai peran strategis dalam penyerapan tenaga kerja dan pendapatan regional. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dam Perdagangan Kabupaten Bangli, budidaya bambu memberi kontribusi sebesar 40% pada Pendapatan Domestrik Regional Bruto (PDRB) dan menyerap lebih dari 45% tenaga kerja penduduk Bangli. Produksi bambu di Bangli untuk memenuhi berbagai keperluan, diantaranya: (1) kerajinan, (2) bahan bangunan, (3)   furnitur, (4) pangan, dan (5) upacara adat.  Sebagian besar kebutuhan bambu Provinsi Bali  untuk berbagai keperluan tersebut disuplai oleh Kabupaten Bangli. Permintaan pasar luar negeri terhadap furnitur bambu sangat besar, namun kapasitas produksi yang ada tidak mampu memenuhi permintaan tersebut.  Jumlah unit usaha kerajinan bambu di Bangli sebanyak 4.732 dan melibatkan 9.530 tenaga kerja,   dengan nilai investasi Rp. 306 juta dan nilai produksi sebesar Rp. 27 milyar. Di Bali, bambu banyak digunakan untuk bangunan. Rumah-rumah tradisional Bali menggunakan bambu sebagai bahan bangunan rumah, seperti dinding, atap, lantai dan kerangka bangunan utama.  Bambu juga banyak digunakan pada tahap proses pembuatan bangunan. Beberapa bagian tanaman bambu dapat dipergunakan untuk bahan pangan dan obat-obatan. “Rebung” adalah bagian batang bambu muda untuk pangan. Daun bambu duri (Bambusa bambos (L) Voss) dapat dipakai untuk obat mata, bronkitis dan demam. 

Di Bali terdapat lebih kurang 20  upacara adat yang selalu membutuhkan bambu. Sebagian besar produksi bambu di Provinsi Bali dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan upacara tersebut. Memperhatikan kebutuhan bambu untuk berbagai keperluan sebagaimana disampaikan di atas, maka potensi pasar bambu sangat menjanjikan. Animo masyarakat Bangli untuk menamam bambu sangat tinggi. Upaya pemberdayaan masyarakat melalui budidaya bambu akan berdayaguna apabila keterlibatan masyarakat tidak hanya pada fase penyediaan bahan baku saja, namun juga pada tahap proses dan pemasaran hasil produksi yang banyak diminati.  Hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pengembangan budidaya  bambu adalah aspek permodalan dan dukungan multipihak  terkait dengan (1)proses produksi (2) inovasi dan diversifikasi produk, dan (3) aspek regulasi yang mendukung bambu sebagai produk unggulan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.

Peranan Budidaya Bambu di Bangli dalam Konservasi Lingkungan

Akar bambu termasuk akar serabut sehingga berdayaguna dalam proteksi tanah untuk mereduksi potensi erosi yang terjadi. Tanah yang terlindungi akan menjamin terjaganya kapasitas penyimpanan air, sehingga dapat menurunkan limpasan, memperbesar infiltrasi dan tampungan air tanah. Kondisi tersebut merupakan upaya yang berdayaguna untuk mengatasi krisis sumberdaya air yang terjadi di Bali. Tanaman bambu menghasilkan banyak sersah, sehingga sangat berguna dalam perbaikan sifat hidrologis tanah. Berbagai hasil survei dan penelitian  menunjukkan bahwa kondisi  sumberdaya air di Pulau Jawa dan Bali, sudah termasuk kategori kritis. Hasil perhitungan  neraca air pada musim kemarau tahun 2003 dan prediksi tahun2020 untuk pulau-pulau di Indonesia, pulau Jawa dan Bali pada tahun 2003 mengalami defisit sebesar 13,1 miliar m3. Pada tahun 2020 besarnya defisit meningkat cukup signifikan, yaitu menjadi 18,8 miliar m3. Indeks ketersediaan air  Pulau Jawa dan Bali,  dimana 60% penduduk   Indonesia bermukim,  berdasarkan survei tahun 1986  sebesar 1.750 m3/kapita/th, termasuk kategori kritis menurut klasifikasi World Water Resources Institut (Weert, 1994).

 

Upaya BPDAS Unda Anyar untuk Meningkatkan Budidaya Bambu  

BPDAS Unda Anyar pada tahun 2009 telah mengembangkan areal model bambu seluas 50 hektar di Munduk Belong Cocor dan Munduk Tunggiran  Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani,  Kabupaten Bangli dan melibatkan 2 kelompok tani dan 45 petani. Pelatihan dan bimbingan teknis budidaya bambu juga diberikan untuk kelompok tani tersebut. BPDAS Unda Anyar juga memfasilitasi pembentukan kelompok kerja (Pokja) bambu yang melibatkan multipihak di Kabupaten Bangli. Maksud pemben-tukan Pokja bambu diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mensinergikan program kerja berbagai elemen yang terkait dalam pengembangan budidaya dan unit-unit  usaha bambu.
  2. Menyiapkan sistem kendali mutu dalam pembuatan tanaman, pemrosesan dan pemasaran hasil.
  3. Membuat mekanisme pembagian keuntungan yang proporsional dalam kerangka pemberdayaan masyarakat.

Pada tahun 2012 BPDAS Unda Anyar telah melaksanakan pembinaan teknis dalam proyek pengembangan bambu dengan dana dari  International Tropical Timber Organization (ITTO). Pembinaan teknis yang dilakukan mencakup aspek pembuatan tanaman bambu, pemeliharaan, pemrosesan hingga pemasaran produk.